priyayi_magelang

** NEVER ENDING AND LOST **

Minggu, Februari 27, 2011

5 Cm


Judul Buku : 5 Cm
Penulis : Donny Dhirgantoro
Penerbit : Grasindo, Jakarta

Berkisah tentang persahabatan antara anak-anak kampus yang suka sekali pendakian, dan persahabatan mereka berlanjut sampai ke jenjang pernikahan,

5 Cm adalah sebuah novel yang sarat dengan dunia kampus dan petualangan tak lupa bumbu-bumbu cinta ada didalamnya. cinta yang terpendam dan tidak tersampaikan melingkupi persahabatan mereka, namun tidak sampai membuat persahabatan mereka hancur.

Hikmah yang terkandung didalamnya adalah janganlah pernah takut untuk bermimpi meskipun itu sangat tinggi dan sulit dicapai. Gantungkanlah impian dan cita-citamu disini, diatas kening, Biarkan dia menggantung, 5 Cm, jangan biarkan ia hilang dan akan tetap terlihat oleh mata kita.


Judul Buku : Ranah 3 Warna
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2011
Tebal : 470 Halaman

Sebagai seorang lulusan pondok yang tidak mendapatkan / memiliki ijazah dan berkeinginan untuk bisa masuk kuliah adalah suatu hal yang mustahil. Namun dengan kesungguhan dan kerja keras mengikuti ujian persamaan dan juga mengikuti UMPTN, Akhirnya Alif Fikri bisa masuk sebagai mahasiswa Hubungan Internasional di UNPAD. Maka akhirnya Alif untuk yang kedua kalinya merantau ke tanah orang yaitu ke Bandung bersama sepatu hadiah dari ayahnya. Pertama kali menginjakkan kaki di Bandung tempat yang dituju adalah Randai, teman akrabnya yang telah masuk ITB setahun silam.

Alif dan Randai menjalani kesibukan kesehariannya sebagai mahasiswa. Setelah berpisah dengan teman-teman Shahibul Menara, Akhirnya alif menemukan teman-teman baru di jurusan HI di UNPAD, yaitu Agam dari Palembang, Wira dari Malang, dan Memet dari Sumedang. Besama mereka mengarungi dunia kampus, Ada juga tetangga kost bernama Raisa yang kuliah di UNPAD jurusan Komunikasi.

Setelah kematian ayahnya yang membuat Alif merasa membebani Amaknya yang hanya seorang diri membiayai ia kuliah dan adik-adiknya sekolah. maka dengan tekat yang besar untuk mencari pekerjaan dimulai dari sales kosmetik, jualan batik Minang, dan sebagai guru privat. Namun dengan kemampuannya menulis artikel, yang telah dimiliki sejak belajar di PM, ia ingin fokus belajar sebagai seorang penulis yang akhirnya menjadikan suatu penghasilan yang mencukupinya selama ini dengan belajar bersama Bang Togar.

Ketika keinginannya untuk bisa keliling dunia semakin membuncah Tuhan memberikan jalan dengan mengikuti program tukar pelajar. Yang akhirnya Alif berhasil sebagai calon pelajar yang terpilih bersama Raisa dan beberapa temannya untuk belajar ke Kanada, Meski Randai hanya sebagai Calon Cadangan dan tidak berhasil ikut.

Perjalanan ke Kanada yang kemudian transit di Amman, Yordania. Yang akhirnya bertemu dengan teman lamanya di PM, Rajab Sujai kakak kelasnya dan Kurdi yang kuliah di University Of Jordan.

Program tukar pelajar ke Kanada, yang penampatannya di Quebec adalah tempat terpencil diKanada yang kesehariannya berbahasa Perancis membuat Alif harus bisa berbahasa Perancis, Mendapatkan Homoloque dan "orang tua anggat" yang menyenangkan dan pekerjaan yang diimpikan selama di Kanada yaitu sebagai reporter di Sant-Raymont TV. Berhasil meliput dan wawancara dengan Monsieur Janvier membuat Alif mendapatkan Piagam Emas yang dijanjikan sebagai pelajar terbaik. Memperingati hari pahlawan di Kanada diadakan acara pengibaran Bendera Merah Putih di puncak Mount-Laura dan acara festifal kesenian dan makanan khas Indonesia disaat musim salju.

Yang paling mengasyikkan adalah melewati berbagai musim di Kanada dan perpindahannya dari musim gugur yang menjadikan daun pohon maple berubah warna dan berguguran, kemudian menjadi musim dingin yang menjadikan sungai Sainte-Anne membeku bak es balok terpanjang. dan dilanjutkan dengan memancing ikan Trout diatas danau yang telah membeku.

Dengan mantra Man Shabara Zhafira [siapa yang bersabar akan beruntung] akhirnya Alif mendapatkan apa yang ia inginkan untuk bisa keliling dunia. dan ia juga telah menginjakkan bersama sepatu warisan ayahnya 3 ranah berbeda yaitu Bandung, Amman-Yordania dan Kanada.
*-*


Judul Buku : Negeri 5 Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2009
Tebal : 422 halaman

Sesuai keinginan ibunya yang ingin menyekolahkan Alif Fikri ke sekolah keagamaan di Minangkabau, meski Alif ingin sekali sekolah dijalur umum. maka membuat Alif nekat mengambil keputusan untuk merantau keJawa dan mondok di Pondok Madani [PM] Ponorogo,sesuai saran Pak Etek Gindo. Karena keinginan terbesar Alif adalah menjadi seorang Habibie.

Perjalanan panjang melewati Bukitbarisan yang ditemani sang ayah menuju jawa timur. Meski ahkirnya dengan kerja keras dapat masuk diPM. Bersama kelima kawannya, Raja dari Medan, Atang dari Bandung, Dulmajid dari Sumenep, Said dari Surabaya, dan Baso dari Gowa. Bersama-sama mengarungi kerasnya belajar agama diPM selama 4 tahun. Suka dan duka selama belajar diPM ini dilewati bersama kelima kawannya yang kemudian menyebutnya Shahibul Menara[yang memiliki menara] karena selalu bersama dibawah menara masjid PM. Dan disitulah masing-masing menggantungkan cita-citanya untuk bisa berkeliling dunia. Alif yang ingin menjadi seperti Habibie selepas belajar diPM ingin kuliah di ITB dan bisa melanjutkan studi di Amerika. Meski Baso mengundurkan diri lebih awal sebelum kelulusan karena ingin merawat neneknya yang menjadi satu-satunya keluarga yang masih ada. Membuat Alif juga ingin keluar dari PM dengna alasan ingin segera bisa ikut UMPTN dan masuk sebagai mahasiswa ITB yang dikuatkan dengan persaingannya dengan teman akrabnya,Randai,yang telah masuk ITB, yang selalu bersaing dalam segala hal meski tetap bertaman baik, Namun dilarang oleh orangtuanya dan harus menyelesaikan apa yang dimulainya. Dan untuk urusan kuliah ia harus menunda dan akan diurus oleh ayahnya. Dengan mantra Man Jadda Wajada [siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil], Alif akhirnya bisa menyelesaikan semua urusan di PM.
^-^


Judul Buku : Diantara Shaf Malaikat
Penulis : Muhammad B Anggoro
Penerbit : Laksana, Jogjakarta 2011
Tebal : 416 Halaman

Sungguh, hidup ini tidaklah sederhana!!
Berjuta prahara begitu perkasa menghantam kepala dan bathin Hanif, Bahkan kala hanif berupaya menyandarkan semua bencana hidupnya ke kursi spiritual, ke pelukan illahi rabbi, prosesnya pun sangat pelik.

Hanif, seorang Muallaf yang ditinggalkan ibunya disaat ia masih membutuhkan bimbingan rohani dari ibunya, karena dalam keluarganya ayahnya bukanlah seorang muslim. Dia kabingungan mencari kepasrian keyakinan yang akan dianutnya, meski akhirnya ia menjadi seorang muslim yang taat, ambisius, dan optimis. dengan rajin belajar kesana kemari untuk memperdalam ilmu agamanya. Selain itu dia juga punya keinginan besar untuk bisa menjadi penulis. Untuk mewujudkan itu impiannya dia merantau ke Jakarta demi bisa memenangkan ambisinya untuk memiliki seorang Ken Umi. namun disaat keberhasilannya sebagai seorang penulis terwujud, dia telah terluka hatinya karena tidak dapat menyunting Ken Umi yang telah bersuami, Dilain pihak mesti ada dua wanita yang mengagumi Hanif namun hatinya telah mati oleh cinta Ken Umi.

Ketika pertemuannya dengan Listiyani yang membuat janda beranak satu ini jatuh cinta pada Hanif namun Hanif merasa tidak mencintainya dan menolak perjodohan orang tuanya, dan meninggalkan Listiyani demi mengejar cinta Ken Umi. Dan akhirnya tinggal di kost baru dan bertemu dengan Fatmawati Indri Prameswari yang juga jatuh cinta padanya namun fatma merasa dibohongi oleh Hanif yang kembali ke kostan dengan mabuk setelah pergi berminggu-minggu tanpa kabar, hanif yang di mata Fatma adalah sesosok laki-laki yang alim dan bisa dijadikan teladan akhirnya pergi dan tidak mau bertemu lagi dengan Hanif. Persoalan cinta yang begitu rumit.

Keberhasilan sebagai seorang penulis membuat ia merasa ada yang dibanggakan terhadap Ken Umi. Namun penolakan cinta atas Ken Umi, membuat Hanif merasa tyada guna hidup didunia. Hanif menjadi manusia yang lupa pada tuhan-Nya dan menjadi liar di kehidupan malam yang menjadikannya sakit. Meskipun Hanif kemudian menyadari kesalahan-kesalahan yang telah dia lakukan dan insyaf kembali untuk bisa menjadi salah satu diantara shaf malaikat. Dan menghabiskan hari-harinya untuk bermunadat, tadarus dan beribadah kepada Tuhannya, menjadikan kesehatannya kian menurun dan akhirnya ia meninggal dunia disaat dibawa ke rumah sakit setelah diadakan wawancara tentang keberhasilan penerbitan novelnya.
*-*